Pertanyaan fable vs folktale terdengar sederhana sampai Anda benar-benar mencoba menjawabnya. Bukan karena keduanya rumit, tapi karena kebanyakan penjelasan menempatkan keduanya sebagai dua hal yang sejajar dan terpisah.
Sebenarnya, keduanya seperti lingkaran di dalam lingkaran. Fable bukan tandingan folktale karena justru menjadi bagian di dalamnya. Perbedaan ini akan mengubah cara Anda memahami keduanya sepenuhnya.
Folktale Adalah Payungnya, Fable Ada di Dalamnya

Inilah bedanya fable dan folktale yang jarang dijelaskan dengan benar. Folktale adalah umbrella term yang menaungi banyak jenis cerita, termasuk fairy tale, legend, myth, dan fable. Tentu saja, fable bukan saingan folktale karena justru menjadi salah satu bentuk yang paling terdefinisi, bukan genre baru.
Cikal bakal fable sudah ada sejak prasasti Sumeria sekitar 1.500 tahun sebelum Masehi. Artinya, kebutuhan manusia untuk menyampaikan pelajaran lewat cerita binatang sudah ada ribuan tahun sebelum genre itu punya nama.
Tiga Ciri Fable dan Keunikan Kombinasinya

Fable punya tiga ciri khas yang selalu bisa Anda rasakan. Kombinasi ketiganya juga tidak kebetulan.
Pertama, tokohnya bukan manusia. Genre ini menggunakan binatang atau benda yang bisa bertindak maupun bicara seperti manusia. Teknik ini juga disebut dengan anthropomorphism. Kedua, ceritanya pendek dan fokus: satu situasi, satu konflik, satu resolusi.
Ketiga, moralnya selalu eksplisit. Anda bisa menemukannya di akhir secara langsung, tidak hanya tersirat. Struktur ini memungkinkan pesannya lugas dan tidak disalahartikan. Hal ini berbeda dari folktale lainnya yang moralnya bisa ambigu atau bahkan tidak ada.
Aesop, nama paling identik dengan genre ini, kemungkinan besar adalah mantan budak Yunani abad ke-6 SM yang tidak meninggalkan satu pun tulisan. Seluruh koleksi Fabel Aesop dikumpulkan oleh orang lain, berabad-abad setelah kematiannya.
Apa yang Dimaksud dengan Folktale?

Berbeda dengan fable, characteristics of folktale tidak punya batasan yang ketat. Tokohnya bisa manusia, dewa, raksasa, hantu, atau binatang. Selain itu, moralnya juga tidak selalu eksplisit, kadang tersirat dan bahkan tidak ada.
Hal ini terjadi karena folktale tidak selalu bertujuan mengajarkan. Keberadaannya menghibur dan menjelaskan fenomena alam serta melestarikan identitas budaya. Itulah mengapa folktale dari satu komunitas ke komunitas lain bisa terasa sangat berbeda.
Pada akhir abad ke-18, istilah folktale bahkan dipopulerkan untuk membedakan cerita rakyat biasa dari sastra kalangan elit. Contohnya cerita Brothers Grimm, yang masuk kategori folktale karena tidak populer di kalangan aristokrasi.
Cara Mudah Membedakannya

Setelah memahami hubungannya, membedakan keduanya jadi jauh lebih intuitif. Cukup dua pertanyaan:
- Apakah karakter fable-nya binatang atau benda yang berperilaku seperti manusia, dengan fable moral lesson yang muncul eksplisit di akhir? → Fable.
- Apakah ceritanya lahir dari tradisi lisan suatu budaya dan mencerminkan nilai komunitasnya? → Folktale.
Tapi yang lebih menarik, keduanya tidak pernah benar-benar usang. Aesop menulis 725 fabel yang disebarkan dari mulut ke mulut. Bahkan hingga hari ini, koleksi tersebut terus diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa.
The Tortoise and the Hare bahkan punya versi paralel di Afrika Barat yang berkembang secara terpisah, dengan nilai moral yang hampir identik. Ini turut menjadi bukti bahwa slow and steady wins the race adalah kebenaran lintas budaya.
Folktale pun terus berevolusi. Tidak hanya menjadi urban legend, perkembangannya bisa kita lihat dalam cerita rakyat kontemporer hingga film animasi.
Zootopia, misalnya, adalah fable modern yang bisa semua usia nikmati. Dengan tokoh binatang dan satu konflik serta moral eksplisit tentang prasangka, strukturnya tidak berbeda dari fabel Aesop yang berusia 2.600 tahun.
Belajar Bahasa Inggris Berawal dari Memahami Maknanya

Manusia bercerita bukan hanya untuk menghibur, tapi juga untuk mewariskan cara berpikir. Fable dan folktale adalah dua bukti tertua dari kebutuhan itu. Oleh karenanya, memahami kedua hal ini jadi dasar untuk memahami sesuatu yang lebih besar dari sekadar materi bahasa Inggris
Fun English Course menawarkan pengalaman belajar dengan konteks seperti ini, karena kami sadar bahwa pemahaman yang sesungguhnya berawal dari makna, bukan hafalan sajar. Kalau hari ini fable vs folktale akhirnya jelas, bayangkan apa lagi yang bisa Anda pahami berikutnya.
Daftar sekarang di kelas untuk pelajar dan mulai belajar dengan cara yang berbeda!